Hakikat Manusia Adalah Jiwanya. Badan Hanya Manifestasi dari Jiwa

Yanuar Dwi Istanto

Dari Plato, via Al-Farabi dan Al-Ghazali sampai Ki Ageng Suryomentaram.

Bagi Plato, jiwa jangan ditanyakan apa. Karena jiwa bukan apa dan bukan sesuatu. Di buku Plato, Politea, jiwa bukan sesuatu, melainkan gerak atau aktivitas. Aktivitasnya ada, tapi sesuatunya tidak ada. Itulah jiwa. Jadi, jiwa adalah sesuatu yang bergerak, menggerakan dirinya sendiri, dan termanifestasikan lewat badan. Istilahnya autokineton. Autokineton itu bergerak dengan sendirinya dan tidak ada yang menggerakan.

Jiwa bukan apa dan bukan sesuatu, melainkan gerak atau aktivitas.

Jika diibaratkan sopir dan mobil, jiwa adalah sopirnya dan mobil ibaratkan badanya. Jiwa tidak ada yang nyopiri karena hakikatnya dia sendiri adalah sopir. Jadi dalang atau sopir hidupmu adalah jiwamu. Anda senang, sedih, puyeng, pening, bingung, tidak jelas – itu semua aktivitas jiwamu.

Jadi manifestasi kompleksitas semua gerakan internal biasanya ada di jasad atau tubuh. Tapi, itu juga tidak bisa seratus persen dipedomani. Didalam teori Idea Plato, barang yang kelihatan, yang fisikal, atau yang duniawi itu sifatnya sementara semua. Gampang menipu. Yang sejati adalah yang sifatnya non fisik.

Kesimpulan dari teori Plato bahwa jiwa, ide, dan gagasan jauh lebih sempurna dari fisiknya dengan kata lain jiwa merupakan aktivitas internal yang kadang termanifestasikan dalam tubuh. Tapi, terkadang jiwa juga tetap merupakan aktivitas internal dan hanya betul-betul bersifat internal.