Dari Slow Living ke Stoikisme

Jika kamu bertanya, ” Ada nggak sih, aliran filosofi yang bisa menjadi panduan praktis untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup?”. Mungkin, jawaban yang kamu cari adalah filsafat stoikisme.

Baru-baru ini, aliran ini jadi perbincangan yang hanya di banyak kalangan. Bukan karena ia aliran baru, justru filsafat stoikisme sudah lahir sejak ratusan tahun lalu.

Menurut sebuah sumber, stoikisme lahir di Athena, mendahului Kristus dan Nabi Muhammad. Pada masa itu, ada sekelompok orang yang berkumpul di pasar Athena untuk mendiskusikan tentang hidup yang lebih baik. Mereka kemudian dikenal sebagai Kaum Stoa.

Penyebutan stoa ini, didasarkan pada tempat mereka melakukam diskusi dan berkumpul, yakni stoa yang berarti serambi, teras, atau beranda. Dan, orang pertama yang mencetuskan aliran ini yaitu Zeno, seorang filsuf Yunani Kuno dari Citium, yang kemudian ajaran-ajarannya dikembangkan oleh filsuf ternama lainnya seperti Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius.

Jadi, sebenarnya aliran ini sudah sangat tua, tetapi mengapa bisa digemari oleh orang-orang modern zaman sekarang?

Ya, kita tahu bahwa zaman sekarang, hidup memang semakin menantang. Arus cepat yang ada kita didalamnya, seolah tak kenal belas kasih untuk menenggelamkan siapapun. Dampaknya, tingkat depresi semakin tinggi. Orang rela menggadaikan kesehatannya demi sebuah ambisi.

Menyadari Hal Apa Yang Bisa Dikendalikan dan Mana Yang Tidak

Filsafat ini mendefinisikan hidup ke dalam dua bagian, yang disebut dengan dikotomi kendali. Bagian pertama yaitu dimensi internal, yang berisi segala sesuatu yang berada dalam kendali penuh diri kita, misalnya tujuan kita, keinginan kita, pertimbangan kita, persepsi dan opini kita, serta segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri.

Sedangkan bagian kedua, yaitu dimensi eksternal, yang berisi segala sesuatu yang berada di luar kontrol diri kita, misalnya bencana alam, kondisi saat lahir, respon orang lain, pendapat orang lain, dan apa yang orang lain pikirkan.

Nah, Kaum Stoa ini berprinsip untuk tidak berusaha mengendalikan apa-apa yang berada di luar kendali diri manusia. Sebab semakin berusaha mengendalikan dimensi eksternal tersebut, kita akan semakin merasa frustasi, kecewa, bahkan patah hati. Karenannya, mereka hanya fokus kepada hal-hal yang masih bisa dikendalikan.

Dikutip secara langsung dari buku Slow Living karya Sabrina Ara, Hal 45-57.

3 Comments

  1. hidup tak harus terburu-buru

  2. Pkerjaan utama kita sbmrrmya ibadah..sisanya tinggal kita mau ngapain..

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *